breadcrumb
breadcrumb
menu
Menu Cepat
Artikel Kampus
Informasi & berita terbaru
Cara Staf Pemasaran Membagi Waktu Kuliah dan Pekerjaan: Rencanakan Belajar di Tengah Kampanye
Cara Mengenali Minat sebelum Memilih Jurusan Manajemen Retail
Bukan Cuma Gelar, Program Talenta Global UTB Siapkan Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja Internasional
Mahasiswa Teknik Informatika UTB Temukan Kerentanan Claude AI, Anthropic Beri Hadiah Rp66 Juta
Mahasiswa Teknik Informatika UTB menemukan kerentanan Claude AI dan memperoleh hadiah Rp66 juta dari Anthropic melalui program bug bounty atas kontribusinya di bidang keamanan siber.
Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) tidak hanya menghadirkan inovasi yang mengubah berbagai sektor industri, tetapi juga memunculkan tantangan baru dalam aspek keamanan siber. Seiring semakin luasnya pemanfaatan teknologi AI, kebutuhan akan talenta yang mampu mengidentifikasi dan mencegah potensi kerentanan sistem menjadi semakin penting. Di tengah perkembangan tersebut, kabar membanggakan datang dari Universitas Teknologi Bandung (UTB).
Salah satu mahasiswanya, Muhamad Arga Reksapati dari Program Studi Teknik Informatika, berhasil memperoleh pengakuan internasional setelah menemukan kerentanan pada Claude AI, sistem kecerdasan artifisial yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi global Anthropic. Temuan tersebut divalidasi memiliki tingkat keparahan High dengan skor 7,7 dan mengantarkan Arga menerima apresiasi melalui program bug bounty senilai USD3.700 atau sekitar Rp66 juta. Capaian ini tidak hanya menjadi prestasi bagi Arga, tetapi juga menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu berkontribusi dalam meningkatkan keamanan teknologi AI yang digunakan secara global sekaligus memperkuat posisi UTB sebagai kampus yang mendorong lahirnya talenta digital berdaya saing internasional.
Mahasiswa Teknik Informatika UTB Berhasil Temukan Kerentanan pada Claude AI
Prestasi Arga bermula dari ketertarikannya terhadap keamanan sistem kecerdasan artifisial. Berbekal rasa ingin tahu yang tinggi, ia mulai mempelajari bagaimana AI memproses konteks, menerima berbagai masukan (input), serta mengelola data yang digunakan dalam proses pengembangan perangkat lunak. Dari proses eksplorasi tersebut, Arga menemukan indikasi adanya kerentanan pada sistem Claude Code Action, fitur yang digunakan untuk menjalankan asisten AI dalam pengelolaan GitHub Issue dan Pull Request (PR).
Kerentanan tersebut berpotensi memengaruhi instruksi yang diproses oleh sistem AI. Dalam kondisi tertentu, mekanisme perlindungan yang dirancang untuk menjaga konsistensi isi Issue maupun Pull Request dapat dilewati melalui pemrosesan gambar, sehingga sistem berpotensi membaca informasi yang telah mengalami perubahan. Temuan ini menjadi perhatian penting karena berkaitan langsung dengan keamanan pemrosesan informasi dalam lingkungan pengembangan perangkat lunak yang memanfaatkan teknologi AI.
Verifikasi Dilakukan Secara Manual Sebelum Dilaporkan ke Anthropic
Meski telah menemukan indikasi kerentanan, Arga tidak langsung menyimpulkan bahwa temuannya benar-benar valid. Ia terlebih dahulu melakukan serangkaian verifikasi teknis untuk memastikan bahwa celah tersebut dapat direproduksi secara konsisten, memiliki alur eksploitasi yang jelas, serta memberikan dampak nyata terhadap keamanan sistem.
Menariknya, Arga mengungkapkan bahwa teknologi AI hanya dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mempercepat proses analisis awal dan menyusun hipotesis. Seluruh tahapan pengujian, pembuktian, hingga validasi kerentanan tetap dilakukan secara manual. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan analisis, ketelitian, dan pemahaman mendalam mengenai keamanan siber tetap menjadi faktor utama dalam menghasilkan riset yang kredibel.
Setelah seluruh proses verifikasi selesai, Arga menyusun laporan teknis yang memuat ringkasan temuan, analisis dampak keamanan, langkah reproduksi yang aman, serta bukti pendukung lainnya. Laporan tersebut kemudian dikirimkan kepada Anthropic melalui mekanisme pelaporan keamanan resmi di platform HackerOne, sebagai bagian dari praktik responsible disclosure yang mengedepankan etika dalam riset keamanan siber.
Anthropic Validasi Temuan dan Berikan Bug Bounty Senilai USD3.700
Laporan yang dikirimkan Arga kemudian melalui proses evaluasi oleh tim keamanan Anthropic. Setelah dilakukan peninjauan, perusahaan menyatakan bahwa kerentanan yang ditemukan tersebut terbukti valid dengan tingkat keparahan High dan memperoleh skor 7,7 berdasarkan standar penilaian keamanan yang digunakan.
Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam membantu meningkatkan keamanan sistem Claude AI, Anthropic memberikan penghargaan melalui program bug bounty senilai USD3.700 atau sekitar Rp66 juta. Program bug bounty merupakan bentuk kolaborasi yang banyak diterapkan perusahaan teknologi global dengan memberikan penghargaan kepada peneliti keamanan yang berhasil menemukan serta melaporkan kerentanan secara bertanggung jawab sebelum dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Pengakuan dari Anthropic menjadi bukti bahwa kemampuan dan kompetensi mahasiswa Indonesia mampu memenuhi standar yang diterapkan perusahaan teknologi kelas dunia. Capaian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa riset keamanan siber yang dilakukan secara mandiri, sistematis, dan beretika dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan teknologi kecerdasan artifisial yang lebih aman.
Prestasi Arga Perkuat Rekam Jejak Mahasiswa UTB di Bidang Keamanan Siber
Keberhasilan menemukan kerentanan pada Claude AI bukan menjadi pencapaian pertama bagi Arga di bidang keamanan siber. Sebelumnya, ia juga telah melaporkan sejumlah kerentanan pada proyek open source curl/libcurl, perangkat lunak yang digunakan secara luas dalam berbagai layanan digital di seluruh dunia.
Sejumlah temuannya telah memperoleh identitas Common Vulnerabilities and Exposures (CVE) dan tercatat dalam National Vulnerability Database (NVD). Namanya juga tercantum dalam security advisory resmi curl pada bagian Credits/Reported-by sebagai pelapor kerentanan. Bahkan, salah satu hasil risetnya pernah mendapat sorotan dari media teknologi di Swedia.
Rekam jejak tersebut menunjukkan konsistensi Arga dalam menekuni bidang keamanan siber sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia memiliki potensi besar untuk berkontribusi terhadap pengembangan teknologi global. Prestasi ini juga memperkuat citra Universitas Teknologi Bandung sebagai kampus yang mampu melahirkan talenta digital dengan kompetensi yang diakui hingga tingkat internasional.
UTB Bangun Ekosistem Prestasi untuk Mencetak Talenta Digital Berdaya Saing Global
Keberhasilan Arga memperoleh pengakuan dari Anthropic menjadi salah satu bukti nyata komitmen Universitas Teknologi Bandung (UTB) dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendorong mahasiswa untuk terus berkembang, berinovasi, dan menghasilkan karya yang relevan dengan kebutuhan industri. Kampus tidak hanya berperan sebagai tempat menempuh pendidikan, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kompetensi melalui riset, kolaborasi, hingga pengalaman belajar berbasis proyek.
Rektor Universitas Teknologi Bandung, Muchammad Naseer, menjelaskan bahwa capaian Arga menunjukkan bagaimana akses terhadap ekosistem pembelajaran yang tepat mampu melahirkan talenta digital yang kompetitif di tingkat global. Menurutnya, pengakuan dari perusahaan teknologi kelas dunia seperti Anthropic menjadi validasi bahwa mahasiswa Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan teknologi masa depan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengembangan tiga ekosistem utama, yaitu Ekosistem Prestasi, Ekosistem Siap Kerja, dan Ekosistem Creativepreneur. Ketiga ekosistem tersebut dirancang untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi melalui pendampingan dosen, kegiatan riset, kompetisi nasional maupun internasional, proyek inovasi, serta kolaborasi dengan berbagai mitra industri.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh bekal akademik selama perkuliahan, tetapi juga memiliki kesempatan membangun portofolio, memperluas jejaring profesional, serta meningkatkan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Ke depan, UTB juga akan terus memperluas akses mahasiswa terhadap riset, inovasi, keamanan siber, kecerdasan artifisial, hingga berbagai proyek berbasis transformasi digital sebagai bagian dari upaya mencetak lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
UTB dan Komunitas Kuliah Hadirkan Program Kuliah Fleksibel untuk Dukung Pengembangan Karier
Komitmen Universitas Teknologi Bandung (UTB) dalam mencetak lulusan yang unggul juga diwujudkan melalui perluasan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat. Melalui kolaborasi bersama Komunitas Kuliah, UTB menghadirkan sistem perkuliahan yang lebih fleksibel dan inklusif melalui Program Perkuliahan Karyawan (P2K), Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), serta berbagai pilihan metode belajar yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, mulai dari tatap muka, hybrid learning, hingga blended learning.
Pilihan program studi di Universitas Teknologi Bandung (UTB) juga dirancang mengikuti kebutuhan industri, khususnya pada bidang teknologi, bisnis, rekayasa, dan desain kreatif. Calon mahasiswa dapat memilih berbagai program studi sesuai minat dan tujuan karier, mulai dari jenjang sarjana hingga magister.
Program Sarjana (S1):
- S1 Teknik Informatika
- S1 Sistem Informasi
- S1 Bisnis Digital
- S1 Manajemen
- S1 Akuntansi
- S1 Teknik Industri
- S1 Teknik Sipil
- S1 Teknik Elektro
- S1 Teknik Lingkungan
- S1 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK)
- S1 Desain Komunikasi Visual (DKV)
Program Magister (S2):
- S2 Magister Manajemen
Selain didukung tenaga pengajar yang berpengalaman, mahasiswa juga memiliki kesempatan mengikuti berbagai kegiatan akademik, penelitian, kompetisi, program inovasi, hingga kolaborasi bersama dunia industri. Melalui pendekatan tersebut, UTB berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki pengalaman praktis, kemampuan adaptif, serta kesiapan menghadapi perkembangan teknologi dan kebutuhan industri di masa depan.
Kesimpulan
Prestasi Muhamad Arga Reksapati dalam menemukan kerentanan pada Claude AI dan memperoleh apresiasi dari Anthropic menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing di tingkat internasional melalui inovasi, riset, dan kompetensi di bidang keamanan siber. Didukung ekosistem pembelajaran yang mendorong prestasi, riset, serta kolaborasi dengan dunia industri, Universitas Teknologi Bandung terus berkomitmen mencetak talenta digital yang adaptif, kreatif, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan teknologi serta transformasi digital di Indonesia maupun dunia.
Jika kamu ingin mengembangkan kompetensi di bidang teknologi, bisnis, maupun industri kreatif sekaligus mempersiapkan karier di era digital, kini saatnya bergabung bersama Universitas Teknologi Bandung (UTB) melalui Program Perkuliahan Karyawan (P2K). Dapatkan informasi lengkap mengenai program studi, biaya kuliah, jadwal pendaftaran, hingga berbagai informasi pendidikan dan pengembangan karier melalui website resmi UTB serta ikuti Instagram, TikTok, LinkedIn, dan Channel WhatsApp Komunitas Kuliah agar tidak ketinggalan informasi terbaru.
Referensi :
- Industry.co.id. (2026, July 7). Kisah mahasiswa UTB Arga Reksapati yang berhasil temukan kerentanan Claude AI mendapatkan hadiah 3.700 USD. https://www.industry.co.id/read/152680/kisah-mahasiswa-utb-arga-reksapati-yang-berhasil-temukan-kerentanan-claude-ai-mendapatkan-hadiah-3700-usd
- Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. (2026). Mahasiswa penerima KIP Kuliah raih pengakuan internasional atas temuan kerentanan Claude AI. https://kemdiktisaintek.go.id/news/article/mahasiswa-penerima-kip-kuliah-raih-pengakuan-internasional-atas-temuan-kerentanan-claude-ai
Hubungi layanan kami
Pusat Bantuan Kampus
Kampus UNIVERSITAS TEKNOLOGI BANDUNG • Jl. Soekarno Hatta 378 Bandung 40235
Tagged (Tags) :
© 2026 Universitas Teknologi Bandung UTB. All rights reserved.
UTB